loading...

MENGINTIP BAKAT BESAR DIBALIK GANGGUAN PERILAKU

ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280




Tidak semua anak berbakat punya perilaku layaknya bawah umur normal. Ada juga di antara mereka yang memiliki gangguan autisme dan pemusatan perhatian.
Saat berusia batita Jason dikenal sebagai bocah hiperaktif dan ADHD (gangguan pemusatan perhatian). Ia tak pernah bisa membisu dan kadang menunjukkan agresivitasnya. Ia sangat hobi mengutak-atik sekaligus merusak atau menghancurkan barang-barang di rumahnya.

Karena sikapnya itu, orang tua
Jason membiarkan rumahnya kosong melompong. Di balik itu Jason juga termasuk sosok pendiam dan sulit bergaul. Namun, tak ada yang menyangka, bocah hiperaktif macam Jason ternyata memiliki kelebihan super yang tak dimiliki bawah umur seusianya. Kecerdasannya di bidang matematika luar biasa. Tak heran jikalau di usia 10 tahun ia sudah bisa masuk SMP dan di usia 13 tahun sudah duduk dibangku kelas 2 SMU.
Jason, menurut Dr. Reni Akbar Hawadi, M.Psi., termasuk kategori bawah umur gifted (berbakat) sekaligus handicapped (memiliki hambatan). “Di satu sisi, ia merupakan sosok hiperaktif yang ditandai dengan banyak sekali perilaku agresifnya. Di sisi lain, ia juga merupakan seorang jenius karena memiliki IQ 145 poin, selain kreativitasnya yang tinggi,” ungkap pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang juga peneliti bawah umur berbakat.

BERBAKATKAH ANAK ANDA?
Hal senada diungkapkan Astri S. Widianti, Psi., psikolog dari Essa Consulting Group. Menurutnya, anak berbakat yaitu mereka yang memiliki kelebihan di atas bawah umur normal. Kelebihan itu pun setidaknya mencakup tiga hal yang sebagian sudah bisa ditunjukkan di usia batita.

*  IQ tinggi
IQ tinggi ditandai dengan ingatan yang kuat. Otaknya seolah berfungsi kolam mesin pemotret. Kalau orang renta menjelaskan banyak sekali jenis kendaraan kepada si anak, contohnya, maka keesokan harinya ia sudah bisa mengingat dan menyebutkan semua kendaraan yang dijelaskan tadi hingga detail. Selain itu, perbendaharaan katanya relatif luas/banyak, sehingga biasanya gemar nimbrung ketika orang tuanya bercakap-cakap. Ia pun bisa berpikir logis dan kritis, sehingga ketika menginjak usia prasekolah ia sudah bisa memecahkan soal-soal aljabar sederhana. 

Kejeniusannya terlihat dari kesenangannya mempelajari banyak sekali bacaan tebal ibarat kamus ensiklopedi, dan sejenisnya, serta bisa memecahkan banyak sekali soal dengan cepat, selain cepat pula menemukan kesalahan maupun kekeliruan.
Tak jarang anak juga menunjukkan kemampuan supernya ibarat bisa membaca lebih cepat di usia yang relatif lebih muda dibanding anak sebayanya. Kadang kemampuan membaca ini muncul tanpa pernah diajari sebelumnya secara khusus.

* Kaya Kreativitas
Kreativitas ditandai oleh dorongan ingin tahu yang sangat besar, sering mengajukan pertanyaan yang berbobot, memberi banyak gagasan dan proposal terhadap suatu masalah, bebas ketika menyatakan pendapat, memiliki rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, punya pendapat sendiri, dapat mengutarakan pendapatnya dan tak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain, punya rasa humor yang tinggi, daya imajinasinya kuat, serta orisinalitasnya tinggi yang tampak kala ia mengungkapkan gagasan, buah pikiran, dan sejenisnya. Selain itu, ia juga bisa bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, dan bisa mengembangkan/merinci suatu gagasan (kemampuan elaborasinya bagus).

* Motivasi Kuat
Tekun menghadapi peran (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama dan tak mau
berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk menunjukkan prestasi, ingin mendalami materi/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasi yang diraihnya), menunjukkan minat terhadap aneka problem “orang dewasa” semisal soal pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya. Ia pun senang dan rajin mencar ilmu serta penuh semangat, hingga cepat bosan pada tugas-tugas rutin, memiliki orientasi pada tujuan-tujuan jangka panjang disamping bisa menunda pemuasan kebutuhan sesaat. (Pusat Keberbakatan http://puskat.psikologi.ui.edu/ Powered by: Joomla! Generated: 28 March, 2009, 07:12)

Singkatnya, “Jika seorang anak memiliki tiga kriteria tersebut, maka ia termasuk anak berbakat,” tandas Reni. Ia lalu menuturkan, ketika ini memang terjadi perdebatan besar mengenai bawah umur berbakat (gifted) dengan disabilitylearning (kesulitan belajar). Sayangnya, banyak sekali gangguan dan kekurangan yang ditunjukkan sang anak kerap menutup mata orang renta untuk melihat banyak sekali kelebihan di baliknya.

BELUM POPULER
Memang, tidak semua anak autis memiliki kelebihan-kelebihan yang dimiliki bawah umur gifted. Penyandang autisme umumnya memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata, bahkan 70% di antaranya menunjukkan retardasi mental. Mereka juga kurang bisa berkonsentrasi, sehingga memerlukan terapi secara rutin.

Kendati begitu, tidak sedikit penyandang autisme ataupun anak hiperaktif yang memiliki bakat luar biasa dan ber-IQ tinggi. Sepintas, bawah umur ini umumnya terlihat hiperaktif, kurang konsentrasi, ceroboh, pembosan dan kadang agresif. Padahal, dalam dirinya tersimpan potensi yang sangat besar.

Itulah mengapa, cara pandang bahwa keberbakatan hanya bisa dimiliki bawah umur normal harus diubah. Anak berbakat tidak mengenal batasan negara, strata sosial, dan banyak sekali kekurangan ataupun gangguan perilaku yang dimiliki seorang anak. Kalau sudah ditakdirkan gifted, ya gifted.
Memang kategori gifted-handicapped ini, ungkap Reni, masih belum populer di Indonesia. “Ini berbeda dengan negara-negara maju ibarat Amerika dan Australia. Mereka sudah memiliki perkumpulan khusus yang menangani bawah umur gifted sekaligus memiliki gangguan ibarat autis dan hiperaktif atau gifted-handicapped.”
PERBEDAAN AUTIS DAN GIFTED-HANDICAPPED
Menurut Reni, membedakan anak autis sekaligus gifted memang bukan perkara mudah. “Namun orang renta yang memiliki anak gifted-handicapped biasanya akan bisa mencicipi adanya kelebihan-kelebihan yang dimiliki buah hatinya.”

Reni lantas mencontohkan seorang ibu yang sempat “mencurigai” kelebihan-kelebihan yang dimiliki batitanya yang autis. Si anak hiperaktif, tak mau menoleh kalau dipanggil, tapi sudah menguasai beberapa aktivitas sederhana di komputer. Akhirnya, setelah melalui pemeriksaan di luar negeri, anak tersebut dikategorikan sebagai gifted-handicapped child.
Memang sayang, instrumen penelitian untuk mengetahui keakuratan gifted-handicapped belum ada di Indonesia. “Alhasil, jikalau ingin mengetahui anaknya gifted atau tidak, harus melalui pemeriksaan di negara-negara maju ibarat Singapura, Belanda, dan Australia,” lanjut Reni.

Jadi bukan perkara gampang untuk menentukan apakah seorang anak berbakat atau tidak, termasuk pada anak autis. Namun, tanpa perangkat tes gotong royong bisa saja keberbakatan ini dilihat dan diukur dari performa anak secara kasat mata.

Contoh konkretnya, meski konsentrasi bawah umur autis cepat buyar dan perhatiannya mudah teralih, tapi dalam bidang tertentu ia bisa mencurahkan konsentrasinya. Semisal, anak batita yang bisa mengoperasikan beberapa aktivitas komputer yang relatif njlimet untuk anak seusianya.

BUTUH PENANGANAN KHUSUS
Anak-anak berbakat sekaligus memiliki gangguan ini, ungkap Reni dan Astri, memang perlu penanganan khusus. Kecepatannya dalam mendapatkan pelajaran, contohnya, membuat mereka tak bisa disamakan dengan bawah umur normal lainnya. Jika anak lain masih berkutat di bahan A, maka anak gifted sudah bisa menguasai bahan C. Demikian halnya dengan bawah umur gifted-handicapped. Hal ini berlaku baik ketika menjalani terapi maupun ketika menstimulasi kognisi si anak. Untuk terapi, misalnya, bawah umur gifted-handicapped tidak bisa disamakan dengan bawah umur autis pada umumnya.

Kecepatannya mendapatkan bahan terapi membuat anak gifted-handicapped cepat bosan. Tak heran jikalau mereka biasanya ogah diterapi yang ditunjukkan dengan sikap marah, kerewelan atau menangis ketika diterapi. Meski begitu ia sangat menguasai bahan terapi.


STIMULASI YANG BISA DIBERIKAN
Astri menganjurkan orang renta dengan bawah umur ibarat itu untuk banyak menunjukkan penjelasan perihal segala sesuatu yang dirasa menarik buat si kecil. Misalnya ketika turun hujan, orang renta bisa menjelaskan mengapa bisa terjadi fenomena alam ibarat itu. Jelaskan dengan cara sederhana dan singkat.      

Begitu juga ketika melihat banyak sekali hal menarik yang diamatinya di teve. Orang renta cukup menerangkannya secara singkat kepada si anak, karena tak jarang konsentrasi bawah umur gifted ini pendek sehingga cepat bosan.

Jangan segan-segan pula membacakan banyak sekali dongeng menarik kepada si kecil. Setelah itu, biarkan ia menanggapinya. Agar kreativitasnya semakin terasah, orang renta juga bisa mengajukan banyak sekali pertanyaan kritis kepada anak.

Lengkapi juga kemudahan keluarga dengan sarana dan prasarana yang mengandung unsur edukasi, ibarat buku-buku pengetahuan dan fiksi, video, mainan, alat-alat musik, alat lukis, alat permainan aktif ibarat bola kaki, bola basket lengkap dengan jaring, dan sebagainya. Dengan sarana edukasi tersebut, orang renta bisa melihat sejauh mana bakat si anak.

Setelah bakatnya ketahuan, orang renta bisa menyalurkan bakat si kecil lebih lanjut. Jika terlihat berbakat melukis, contohnya, orang renta bisa memasukkannya ke sanggar lukis khusus buat anak.

*catat lama yang saya copas di  : http://www.facebook.com/note.php?note_id=76139053461
gambar dari http://anakhiperaktif.com
ADSENSE 336 x 280 dan ADSENSE Link Ads 200 x 90

0 Response to "MENGINTIP BAKAT BESAR DIBALIK GANGGUAN PERILAKU"

Post a Comment